[Auditing] Tujuan PengAuditan Siklus Pengeluaran

Tujuan PengAuditan Siklus Pengeluaran [Auditing] - Auditing / Audit adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti kejadian ekonomi secara objektif mengenai kebijakan serta aktivitas ekonomi untuk menentukan tingkat kecocokan/kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria yang telah ditetapkan dan menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. Siklus Pengeluaran merupakan salah satu objek dari pengauditan.

Pengertian Siklus Pengeluaran
Sebelum kita membahas tentang siklus pengeluaran, ada baiknya kita pahami dulu apa itu siklus??. Baik, dalam akuntansi SIKLUS adalah suatu proses penyediaan informasi keuangan yang meliputi: pencatatan, pengihktisaran, sampai dengan tahap penyusunan laporan keuangan dalam suatu orgaanisasi atau perusahaan.

Siklus Pengeluaran meliputi berbagai keputusan dan proses yang perlu untuk memperoleh barang dan jasa yang diperlukan dalam kegiatan operasional bisnis perusahaan. Siklus pengeluaran dimulai dengan adanya permintaan pembelian dari berbagai fungsi dan departemen yang ada dalam perusahaan, dan diakhiri dengan pembayaran atas pembelian. Siklus itu berkaitan dengan pembelian persediaan, aktiva tetap, barang dan jasa, biaya dibayar di muka dan pembayaran atas pembelian. Dua kelas transaksi utama dalam siklus ini adalah transaksi pembelian dan pengeluaran kas.

Tujuan Audit Siklus Pengeluaran.
Audit Siklus Pengeluaran bertujuan untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing Asersi[1] signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus pengeluaran. Tujuan audit ditentukan berdasarkan 5 kategori asersi laporan keuangan yang dinyatakan oleh manajemen.

#1. Asersi Keberadaan / Keterjadian
Pada asersi ini, auditor menekankan pada apakah seluruh saldo utang dagang dan aktiva tetap benar-benar eksis atau ada pada tanggal neraca. Berikut rincian tujuan audit asersi keberadaan atau kejadian:
  • Utang dagang tercatat sesuai jumlah yang menjadi kewajiban perusahaan pada tanggal neraca.
  • Aktiva tetap tercatat sesuai aset[2] yang dapat digunakan pada tanggal neraca
  • Transaksi pembelian tercatat sesuai barang, aset produksi, dan jasa yang diterima selama periode di bawah audit.
  • Pengeluaran kas tercatat sesuai pembayaran yang dibuat selama periode kepada pemasok atau kreditur.

#2. Asersi Kelengkapan
Asersi ini menekankan apakah seluruh transaksi dan saldo yang semestinya tercantum dalam laporan keuangan, sudah benar-benar dicatat dan disajikan. Berikut rincian tujuan audit asersi kelengkapan:
Utang dagang termasuk semua jumlah yang menjadi kewajiban perusahaan pada pemasok pada tanggal neraca.
  • Saldo properti, aktiva tetap, dan perlengkapan termasuk pengaruh semua transaksi dan kejadian selama satu periode.
  • Pembelian dan pengeluaran kas tercatat termasuk semua transaksi yang terjadi selama satu periode.

#3. Asersi Hak dan Kewajiban
Tugas auditor pada Asersi hak dan kewajiban adalah berusaha memastikan apakah perusahaan mempunyai hak kepemilikan yang sah atas aktiva[3] tetap, dan apakah perusahaan mempunyai kewajiban yang sah atas utang dagang. Rincian tujuan audit asersi hak dan kewajiban dapat dilihat di bawah ini:
  • Utang dagang adalah kewajiban legal perusahaan pada tanggal neraca.
  • Perusahaan memiliki dan berhak atas semua properti[4], aktiva tetap, dan perlengkapan pada tanggal neraca[5]

#4. Asersi Penilaian dan Pengalokasian
Pada asersi penilaian dan pengalokasian, auditor akan berusaha memperoleh bukti mengenai apakah saldo biaya, utang dagang, dan aktiva tetap telah disajikan dalam laporan keuangan pada jumlah yang tepat. Auditor[6] akan memastikan apakah saldo tersebut diperoleh melalui penilaian sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Berikut rincian tujuan audit dari asersi ini:
  • Utang dagang ditetapkan atau dinilai pada jumlah yang tepat sesuai jumlah yang wajib dibayar.
  • Properti, aktiva tetap dan peralatan ditetapkan atau dinilai sesuai cost dikurangi akumulasi depresiasi[7].
  • Saldo biaya tercatat sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

#5. Asersi Pelaporan dan Pengungkapan
Pada asersi ini, auditor akan menghimpun bukti mengenai apakah transaksi dan saldo yang tercatat telah tepat diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan dalam neraca. Tujuan dari audit resersi pelaporan dan pengungkapan adalah:
  • Utang dagang dan aktiva tetao tepat diidentifikasi dan diklasifikasikan dalam neraca.
  • Pengungkapan dilakukan secara tepat sesuai metode depresiasi yang dipakai perusahaan, kondisi pokok kontrak leasing[8] modal, dan aktiva tetap sebagai jaminan utang.
Auditor menggunakan tiga tipe prosedur audit untuk menemukan bukti yang diperlukan untuk mencapai tujuan spesifik audit tersebut, yaitu:
  1. Prosedur untuk memperoleh pemahaman struktur pengendailan intern.
  2. Pengujian pengendalian.
  3. Pengujian substantif[9]

Catatan Penting
[1] Asersi (assertion) merupakanpernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan. Asersi (assertion) adalah suatu deklarasi, atau suatu rangkaian deklarasi secara keseluruhan, oleh pihak yang bertanggung jawab atas deklarasi tersebut.

[2] Aset (assets) merupakan sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lampau dan darimana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Aset perusahaan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi di masa lampau.

[3] Aktiva merupakan sumber daya dalam bentuk harta benda atau hak yang dikuasai oleh perusahaan. Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu dan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan, yaitu tanah, mesin-mesin, kendaraan, gedung, peralatan

[4] Properti adalah harta berbentuk tanah & gedung beserta sarana dan prasaranan yg menggambarkan elemen yg tdk terpisahkan pada tanah & gedung yg dimaksudkan. Ringkas nya, pengertian properti merupakan tempat milik beserta bangunan.

[5] Neraca adalah suatu bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan atau entitas bisnis yang dihasilkan dalam suatu periode akuntansi dimana menunjukkan posisi atas keuangan perusahaan atau entitas bisnis tersebut yang dapat menjadi dasar dalam menghasilkan keputusan bisnis.

[6] Auditor adalah seseorang yang memiliki kualifikasi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dan kegiatan suatu perusahaan atau organisasi.

[7] Depresiasi (penyusutan) adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya. Penerapan depresiasi akan memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.

[8] Leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan oleh bank atau lembaga dan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan atau perorangan untuk jangka waktu tertentu.

[9] Pengujian Substantif adalah kegiatan yang dilakukan oleh auditor selama substantif (diperlukan klarifikasi) tahap pengujian audit yang mengumpulkan bukti-bukti mengenai validitas, kelengkapan dan / atau akurasi saldo akun dan golongan transaksi yang mendasari.

0 komentar

Post a Comment